Problem di dbo.MSmerge_genhistory

Saya mencoba memindahkan database yang direplikasi dari server ke notebook saya. Dan pada saat di jalankan di local notebook terdapat pesan error “Invalid Object Name, dbo.MSmerge_genhistory”.
Untuk mengatasi problem ini, jalankan langkah-langkah dibawah untuk menghilangkan merge replication pada local notebook:
Use [DataBaseName]
EXEC sp_removedbreplication
go

More on page 194

Trend Pengurangan Biaya TI di Tahun 2008

Survey yang diadakan oleh Computer Economics pada kuartal pertama 2008 melaporkan kemungkinan penurunan belanja TI dan kebutuhan akan staf TI di masa mendatang.
Berdasarkan analisa ditemukan bahwa tingkat pertumbuhan bujet operasional TI secara rata-rata adalah 4 persen. Itu menunjukkan adanya penurunan dari 5 persen tingkat pertumbuhan yang diukur pada tahun 2007.
4 persen peningkatan pada bujet IT [...]

More on page 177

Software Gratis atau Berbayar ?

Beberapa tahun terakhir ini banyak software gratis yang bertebaran untuk didownload dari internet dan digunakan secara penuh di perusahaan atau komputer pribadi kita, antara lain Adobe Photoshop Express, SQL Server 2005 Express, AVG Anti Virus Free, Yahoo Messenger dan lain-lain.
Untuk perusahaan dengan budget terbatas, ini jadi fenomena yang sangat menarik dan menguntungkan. Walaupun ada beberapa [...]

More on page 171

De Ranch, Maribaya, Lembang

De Ranch terletak di Maribaya, nggak jauh dari Cafe Sumur setelah pasar Lembang.
Tempatnya sangat indah, lapangan yang terbuka luas layaknya ranch, ada tempat permainan anak-anak juga, food court, sejuk, dingin, wah pokoke asyik tenan…sayang jauh banget dari jakarta
Di De Ranch, Hugo dan Jordan nyoba berkuda lagi ala cowboy. Selain kuda, anak-anak juga bisa [...]

More on page 170

Rumah Sosis, Lembang

Rumah Sosis adalah salah satu tempat permainan anak diantara sekian banyak di sekitar jalan menuju Lembang.
Sesuai namanya, kebanyakan makanan yang dijual di Rumah Sosis adalah berbagai macam sosis. Tapi terus terang, rasanya tidak seenak yang kita bayangkan, hampir tidak ada istimewanya.
Untuk tempat permainannya pun sangat biasa-biasa saja, ATV dalam lapangan kecil dan berputar2 disitu aja [...]

More on page 166

Spirit Camp, Lembang

Spirit Camp berada di kawasan perumahan Graha Puspa, deket banget dengan Sapu Lidi di Jl. Sersan Bajuri KM 4,5.
Harga tiket masuknya cukup murah Rp.7.000 / anak, dibawah umur 2 tahun gratis. Tapi itu baru tiket masuk ya, nanti untuk beberapa area permainan ada yang bayar lagi. Untuk yang gratis antara lain jungkat jungkit, ayunan besi, [...]

More on page 164

Kafe Sapu Lidi

Kafe ini sangat menarik, dengan setting saung sunda ditengah-tengah sawah dan kolam ikan, dengan semilir angin yang menyejukkan membuat kita pengen tidur di saung :), bener-bener suasana pedesaan.
Suasana yang santai, lesehan dan ada lapangan yang cukup buat anak2 berlari-larian sambil main bola. Disetiap saung ada meja kayu besar, bantal untuk tiduran dan dilengkapi dengan kentongan [...]

More on page 161

De Tropis Guest House, Beds and Breakfast

Menurut saya guest house ini cukup nyaman, murah, bersih dan suasana kekeluargaannya membuat kita bisa lebih santai. Fasilitas yang disediakan pun cukup banyak, ada wi-fi (free lho),  makan sudah termasuk, complimentary drinknya bisa ambil sendiri kapan aja dan dimana saja (kayak iklan apa ya).

Harganya cukup murah, 200rb untuk standard, 300rb untuk deluxe dan 350rb untuk [...]

More on page 157

Model Bisnis di Internet

IT, Marketing Comments (0)

Model Bisnis adalah salah satu hal yang paling banyak didiskusikan di internet, terutama mengenai bagaimana Internet mengubah model bisnis tradisional. Sayangnya, hanya sedikit yang memberikan pandangan secara jelas apakah sebenarnya “internet business model” itu.

Model Bisnis adalah metode untuk menjalankan bisnis dimana perusahaan dapat bertahan dan berjalan dengan sendirinya yaitu dengan menghasilkan pendapatan. Model Bisnis menunjukkan bagaimana perusahaan mendapatkan uang dengan menetapkan posisinya dalam “value chain”.

Beberapa model cukup sederhana. Perusahaan memproduksi barang atau jasa dan menjualnya kepada pelanggan. Jika semuanya berjalan dengan lancar, pendapatan dari penjualan melebihi biaya operasi dan perusahan mendapatkan keuntungan.

Model lain mungkin memiliki lebih banyak rangkaian. Salah satunya adalah broadcasting. Siaran radio dan televisi dipancarkan melalui gelombang udara secara gratis pada setiap orang. Broadcasternya adalah bagian dari jaringan kompleks distributor, pembuat content, iklan dan pendengar atau pemirsa. Siapa yang mendapatkan uang dan berapa yang didapatkan tidak terlalu jelas pada awalnya. Bottom-linenya terantung dari banyak faktor.

Perdagangan via Internet akan menciptakan tipe baru bisnis model. Itu sudah pasti. Tapi internet juga bisa reinvent model yang sudah ada dan teruji. Contohnya lelang. Dari bentuk kuno brokering, lelang sudah dijalankan secara luas seluruh dunia untuk menetapkan harga untuk item-item seperti komoditas pertanian, instrumen keuangan, dan barang antik. Internet telah mempopularitaskan model lelang dan memperluas penerapannya pada berbagai barang dan jasa.

Model Bisnis telah didefinisikan dan dikategorikan ke banyak kategori yang berbeda. Ini adalah salah satu usaha untuk menghadirkan klasifikasi yang luas dan meyakinkan dari model bisnis yang dapat diamati di internet. Klasifikasi yang diajukan ini belum lengkap atau definitif. Model Bisnis Internet akan terus berkembang. Varian baru dan lebih menarik diharapkan akan muncul di masa mendatang.

Model dapat diimplementasikan ke berbagai cara, seperti yang dijelaskan dibawah dengan contoh-contoh. Bahkan, sebuah perusahaan dapat mengkombinasikan beberapa model yang berbeda sebagai bagian dari strategi bisnis internetnya secara keseluruhan. Sebagai contoh, sudah umum untuk perusahaan yang content-driven untuk menggabungkan advertising dengan model subscription.

Model bisnis telah mengambil alih kepentingan yang lebih besar sebagai bentuk intellectual property yang dapat diprotek dengan hak paten. Bahkan, model bisnis (atau banyak orang yang juga menyebut metode bisnis) telah semakin jatuh dalam alam hukum paten. Banyak paten metode bisnis yang berkaitan dengan e-commerce telah diberikan. Tapi apa yang baru dari model bisnis tidak selalu jelas. Beberapa paten yang lebih penting dapat diperkarakan dalam pengadilan.

Kategori dasar model bisnis mencakup:

  • Brokerage. Para broker adalah pembuat pasar, mereka mempertemukan penjual dan pembeli, dan memfasilitasi transaksi. Broker memainkan peranan yang cukup sering di pasar B2B, B2C, C2C. Biasanya broker meminta fee atau komisi untuk setiap transaksi yang terjadi. Formula atau fee ini bisa bermacam-macam. Model Brokerage antara lain:
  1. Marketplace Exchange: menawarkan seluruh jasa mencakup proses transaksi, mulai dari pendekatan pasar hingga negosiasi dan pemenuhannya. Exchanges beroperasi secara independen atau dibackup oleh konsorsium industri. Contoh: Orbitz, ChemConnect
  2. Buy/Sell Fulfillment: menerima order pelanggan untuk membeli atau menjual produk atau jasa, termasuk dalam hal harga dan pengiriman. Contoh: CarsDirect, Respond.com
  3. Demand Collection System: model “name-your-price” yang telah dipatenkan dan diawali oleh Priceline.com. Pembeli prospektif memberikan final bid untuk barang atau jasa tertentu, dan broker yang mengatur pelaksanaannya. Contoh: Priceline.com.
  4. Auction Broker: mengadakan lelang untuk para penjual (individual atau toko). Broker menerapkan biaya listing pada penjual dan komisi yang terkait dengan nilai transaksi penjualan. Lelang diadakan dalam berbagai bentuk aturan offer dan bid. Contoh: EBay.
  5. Transaction Broker: memberikan mekanisme pembayaran dari pihak ketiga untuk pembeli dan penjual yang ingin melakukan transaksi. Contoh: Paypal, Escrow.com.
  6. Distributor: merupakan katalog yang menghubungkan pembuat produk dalam jumlah besar dengan pembeli grosir dan retail. Broker memfasilitasi transaksi bisnis antara distributor franchise dan partner perdagangan mereka.
  7. Search Agent: agen atau robot software yang dipergunakan untuk mencari harga dan keberadaan barang atau jasa yang dibutuhkan pembeli, serta mendapatkan informasinya.
  8. Virtual Marketplace: pasar virtual atau mal virtual, jasa hosting untuk toko online dengan biaya setup, listing bulanan dan/atau biaya transaksi. Bisa juga memberikan transaksi otomatis dan jasa pemasaran yang berhubungan. Contoh: Amazon.com
  • Advertising. Model iklan internet adalah pengembangan dari model tradisional media broadcast. Broadcaster, dalam hal ini, web site, memberikan content (biasanya, tapi tidak harus, adalah gratis) dan jasa (seperti email, IM, blogs) digabung dengan pesan iklan dalam bentuk banner ads. Banner Ads mungkin sumber pendapatan utama atau satu-satunya untuk broadcaster. Broadcaster mungkin pembuat content atau distributor dari content yang dibuat di suatu tempat. Model Advertising bekerja dengan baik ketika volume traffic pengunjung adalah besar atau sudah dikhususkan.
  1. Portal. Biasanya mesin pencari yang mencakup berbagai content dan jasa. Volume tinggi dari trafik pengunjung membuat iklan menjadi menguntungkan dan memungkinkan adanya diversifikasi jasa situs yang lebih lengkap. Portal yang lebih personal memungkinkan user melakukan kustomisasi pada interface dan content. Portal dengan ceruk tertentu mengolah user berdasarkan demografinya. Contoh: Yahoo.
  2. Iklan Baris. List barang untuk dijual atau ingin dibeli. Biasanya ada listing fee, tapi ada juga yang menerapkan membership fee. Contoh: Monster.com, Craigslist, Match.Com
  3. User Registration. Situs content-based yang free untuk diakses tapi membutuhkan user untuk mendaftar dan mengisi data demografis. Registrasi membuat inter-session tracking dari kebiasaan penjelajahan user dan menghasilkan potensial data yang berharga bagi pengiklan. Contoh: NYTimes.
  4. Query-based Paid Placement. Menjual penempatan link favorit (misal: link sponsor),  atau iklan yang dihubungkan dengan bentuk pencarian khusus dalam user query, seperti trademark Overture untuk model “pay-for-performance”. Contoh: Google, Overture
  5. Contextual Advertising / Behavioral Marketing. Freeware developer yang menggabungkan iklan dengan produk mereka. Misal, browser extension yang mengotomatiskan otentikasi dan pengisian form, juga mengikutsertakan link iklan atau pop-up ketika user menjelajahi web. Contextual advertisers dapat menjual iklan berdasarkan aktifitas penjelajahan web setiap user.
  6. Content-Targeted Advertising. Diawali oleh Google, meningkatkan akurasi pencarian iklan diseluruh internet. Google mengidentifikasikan arti web page dan secara otomatis memberikan iklan yang berkaitan ketika user mengunjungi situs tersebut. Contoh: Google.
  7. Intromercials. Iklan animasi full-screen ditempatkan pada awal situs sebelum user masuk pada content yang diinginkan. Contoh: CBS MarketWatch.
  8. Ultramercials. Iklan online interaktif yang meminta user untuk merespon pesan-pesan iklan sebelum mencapai content yang diinginkan. Contoh: Salon.
  • Infomediary. Data mengenai konsumen dan kebiasaan konsumsinya sangat berharga, apalagi kalo informasi itu diolah dan dianalisa secara hati-hati, maka dapat digunakan sebagai target kampanye pemasaran. Data yang dikoleksi secara independen mengenai produsen dan produknya sangat berguna bagi konsumen ketika ingin melakukan pembelian. Beberapa perusahaan berfungsi sebagai infomediaries atau perantara yang membantu pembeli dan/atau penjual agar mengetahui dan mengerti akan pasar yang sudah ada.
  1. Advertising Networks. menyampaikan iklan banner pada jaringan anggota situs, sehingga memungkinkan pengiklan menjalankan kampanya pemasaran yang besar. Jaringan iklan mendapatkan data user internet yang dapat digunakan untuk menganalisa efektifitas pemasaran. Contoh: DoubleClick.
  2. Audience Measurement Services. Agen riset pasar user online. Contoh: Nielsen//Netratings
  3. Incentive Marketing. Program loyalitas pelanggan yang memberikan insentif pada pelanggan seperti poin dan kupon untuk setiap pembelian pada retailer yang berkaitan. Data user yang didapatkan dijual kepada pengiklan. Contoh: Coolsavings.
  4. Metamediary. Memfasilitasi transaksi antara pembeli dan penjual dengan memberikan informasi lengkap dan jasa pendukung, tanpa harus terlibat secara langsung pada pertukaran barang atau jasa antara kedua belah pihak. Contoh: Edmunds.
  • Merchant. Wholesaler dan retailers barang dan jasa. Penjualan bisa saja berasal dari barang yang dipublish atau melalui lelang.
  1. Virtual Merchant. Atau e-tailer, adalah merchant retail yang beroperasi secara penuh melalui internet. Contoh: Amazon.com.
  2. Catalog Merchant. Bisnis mail-order dengan katalog yang berbasis web. Mengkombinasikan surat menyurat, telepon dan order online. Contoh: Lands’End.
  3. Click and Mortar. Pengembangan retail secara tradisional brick-and-mortar dengan web sebagai ruang muka tokonya. Contoh: Barnes & Noble.
  4. Bit Vendor. Merchant yang berhubungan dengan produk dan jasa digital, dan dalam bentuk aslinya, menjual dan mendistribusikan melalui web. Contoh: Apple iTunes Music Store.
  • Manufacturer (Direct). Model manufacturer atau direct, didasarkan pada kekuatan web untuk memberikan kemampuan pabrikan (perusahaan yang memproduksi barang atau jasa) untuk mencapai pembeli secara langsung dan memotong jalur distribusi. Model manufacturer dapat berdasarkan pada efisiensi, peningkatan layanan pelanggan, dan pemahaman yang baik akan pilihan pelanggan. Contoh: Dell Computer.
  1. Purchase. Penjualan produk dimana hak milik ditransfer kepada pembeli.
  2. Lease. Sebagai ganti dari biaya sewa, pembeli mendapatkan hak untuk menggunakan produk dibawah perjanjian penggunaan produk. Produk dikembalikan kepada penjual setelah perjanjian jatuh tempo atau dibatalkan atas nama perjanjian sewa beli. Salah satu perjanjian mungkin mencantumkan hak beli setelah masa perjanjian berakhir.
  3. License. Penjualan produk yang melibatkan transfer hak penggunaan kepada pembeli, sesuai dengan perjanjian. Hak kepemilikan tetap ada pada produsen (misal, lisensi software).
  4. Brand Integrated Content. Kebalikan dari pendekatan content sponsor (seperti model advertising), content brand integrated dibuat oleh produsen itu sendiri untuk basis utama penggantian produk. Contoh: bmwfilms.
  • Affiliate. Kebalikan dari umumnya portal, yang mencari kesempatan untuk mengarahkan trafik volume yang tinggi ke salah satu situs, model affiliate, memberikan kesempatan pembelian kemana saja pengunjung menjelajah web. Yang dilakukan adalah menawarkan insentif finansial (dalam bentuk persentase pendapatan) untuk situs partner yang terafiliasi. Afiliasi memberikan poin pembelian pada setiap click kepada merchant. Seperti model pay-for-performance, jika afiliasi tidak menghasilkan penjualan, maka tidak ada biaya apapun untuk pihak merchant. Model afiliasi adalah sifat turunan yang sangat tepat untuk internet, yang menjelaskan kenapa internet itu populer. Variasinya antara lain, pertukaran banner, pay-per-click dan program bagi hasil. Contoh: Barnes & Noble, Amazon.com
  1. Banner Exchange. Pertukaran penempatan banner antara situs atau jaringan yang berafiliasi.
  2. Pay-per-click. Situs yang membayar afiliasi berdasarkan clickthrough pengunjung.
  3. Revenue Sharing. Menawarkan komisi persentase atas penjualan yang didasarkan pada click-through pengunjung dimana kemudian pengunjung memilih untuk membeli produk tersebut.
  • Community. Kelangsungan hidup model komunitas tergantung pada loyalitas user. User memiliki investasi yang tinggi baik dari segi waktu dan emosi. Pendapatan dapat diperoleh dari penjualan produk dan jasa atau kontribusi relawan, atau pendapatan dapat dikaitkan dengan iklan contexttual dan subscription untuk jasa premium. Internet sangat cocok untuk mdel bisnis komunitas dan sekarang ini adalah area pengembangan yang subur, seperti yang kita lihat pada trend jaringan sosial.
  1. Open Source. Software dibangun secara kolaboratif oleh komunitas global programmer yang membagi codenya secara terbuka. Alih-alih menjual lisensi code, open source bergantung pada pendapatan yang diperoleh dari jasa terkait seperti integrasi sistem, dukungan produk, tutorial dan dokumentasi manual. Contoh: RedHat.
  2. Open Content. Content yang dapat diakses secara terbuka dan dibangun oleh komunitas global kontributor yang bekerja secara sukarela. Contoh: Wikipedia.
  3. Public Broadcasting. Model yang didukung user, digunakan oleh radio dan televisi, tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, dan diperluas hingga ke web. Komunitas user yang mendukung situs ini memberikan donasi secara sukarela. Contoh: The Classical Station, WCPE.org.
  4. Social Networking Services. Situs yang memberikan kesempatan pada individu untuk berhubungan dengan individu lain berdasarkan kepentingan yang sama (profesional, hobi, jodoh). Jasa jaringan sosial dapat memberikan kesempatan pada pengiklan contextual dan subscription untuk jasa premium. Contoh: Flickr, Friendster, Orkut.
  • Subscription. User dikenakan biaya setiap period, entah itu harian, bulanan atau tahunan atas suatu jasa. Umumnya situs yang content gratis dengan ‘premium’ (misal, subscriber atau member-only) content. Nilai langganan diadakan dengan mengabaikan tingkat aktual penggunaannya. Biasnya model subscription dan advertising digabungkan menjadi satu.
  1. Content Services. Memberikan content text, audio atau video kepada user yang berlangganan untuk mengakses layanan. Contoh: Listen.com, Netflix.
  2. Person-to-Person Networking Services. Sebagai sarana distribusi informasi yang dibutuhkan user, misal seseorang yang mencari rekan sekolahnya dulu. Contoh: classmates.
  3. Trust Services. Datang dalam bentuk keanggotaan asosiasi yang menegakkan aturan-aturan ketat, dimana anggota membayar biaya langganan. Contoh: Truste.
  4. Internet Service Providers. Menawarkan koneksi jaringan dan jasa yang berkaitan dengan berlangganan bulanan. Contoh: America Online.
  • Utility. Model Utility atau On-Demand berdasarkan pada ukuran penggunaan, atau pendekatan “pay as you go”. Tidak seperti jasa berlangganan, jasa ini berkaitan pada tingkat aktual penggunaan. Secara tradisional, model ini digunakan untuk jasa-jasa penting seperti air, jasa sambungan telepon. Internet Service Provider (ISP), di beberapa bagian di dunia beroperasi sebagai utility, mengenakan biaya pada konsumen atas koneksi per menit, dibandingkan model langganan yang umum di US.
  1. Metered Usage. Mengukur dan menagih pengguna berdasarkan pada aktual penggunaan suatu jasa.
  2. Metered Subscriptions. Memungkinkan pelanggan untuk membeli hak akses konten berdasarkan porsi yang terukur, misal jumlah halaman yang bisa dilihat. Contoh: Slashdot.

Sumber: Michael Rappa, http://www.digitalenterprise.org

Ade Aan @ August 11, 2008

Etiskah Fixed-Price Project ?

IT Comments (1)

Sebagai software developer atau penyedia jasa software development, tentu kita sudah terbiasa pada permintaan customer untuk penentuan harga, jadwal dan scope pada awal project. Memang nggak ada yang salah dengan menentukan harga di awal, cuma masalahnya…kita juga harus memastikan jadwal dan scope project. Dan ini adalah keputusan beresiko tinggi bagi kita.

Hal ini disebut fixed-price project, fixed-price project berbeda dengan fixed-budget project. Fixed-price project adalah penentuan harga atau biaya, jadwal dan scope diawal lifecycle. Sedangkan fixed-budget project adalah penentuan bujet biaya, tapi scope dan jadwal bisa saja bervariasi.

Kita tahu bahwa fixed-price project bukanlah ide yang bagus, dan customer kita pun tahu bahwa itu ide buruk juga. Tapi sangat sulit bagi kita untuk mengabaikan pendekatan ini dalam industri software development, karena sudah menjadi pendekatan yang jamak dan umum.

Pendekatan fixed-price project dikatakan berisiko tinggi karena mengurangi fleksibilitas pada kedua belah pihak baik customer maupun software provider, selain alasan2 lain yang akan disampaikan dibawah ini.

Tapi kenapa ya customer selalu menginginkan fixed-priced sebelum project dimulai ? ada beberapa alasannya, antara lain :

  • Mengurangi resiko keuangan. Customer yakin bahwa dengan meminta vendor untuk set price dari awal, mereka mengurangi potensi kerugian keuangan dan mengalihkan resiko keuangan tersebut pada vendor penyedia jasa.
  • Untuk mendapatkan project dengan ROI tertinggi. Customer memiliki banyak pilihan untuk menginvestasikan dana mereka, dan project TI adalah salah satunya. Dengan meminta kita untuk fixed-price diawal proyek, maka mereka dapat membandingkan biaya dan kelebihannya “apple to apple” serta mendapatkan opsi terbaik dari yang ada.
  • Untuk memaksa kita menyiapkan rencana yang matang. Dengan memaksa kita untuk memberikan estimasi yang akurat, maka kita akan termotivasi secara efektif untuk berpikir bagaimana kita dapat melakukan pekerjaan ini dengan sempurna.
  • Sebagai perbandingan diantara beberapa software provider. Customer ingin mendapatkan deal terbaik sehingga mereka mengeluarkan RFP (request for proposal) kepada beberapa software provider untuk mengirimkan bid-nya. Hal ini memberikan customer kesempatan untuk memilih dan memotivasi para software provider untuk mengurangi marjin mereka dalam kompetisi harga.
  • Untuk mendukung bujet tahunan. Teknologi informasi adalah komponen kritikal pada bujet setiap perusahaan, biasanya 2.15% dari keseluruhan bujet, jadi customer ingin tahu berapa banyak uang yang harus dialokasikan untuk proyek TI pada masa yang akan datang.

Alasan-alasan diatas terlihat masuk akal, tapi sayangnya nggak realistis pada prakteknya. Kenyataan yang terjadi di lapangan pada saat implementasi tidak mendukung teori dibalik pendekatan fixed-price.

Strategi estimasi biaya seperti COCOMO I/II, Function Points, Feature Points, dan SLIM, berdasarkan pada strategi fundamental yang sama, yaitu:

Pertama, kita identifikasikan terlebih dahulu scope sistem dan arsitektur solusi yang tepat untuk scope tersebut. Semakin detail spesifikasi yang kita buat, semakin besar kemampuan kita untuk mengestimasikan secara akurat effort yang dibutuhkan.

Kedua, kita kumpulkan sedikit demi sedikit item yang dapat mempengaruhi besar kecilnya scope berdasarkan spesifikasi tadi.

Ketiga, ambil patokan dari data project yang sudah pernah kita kerjakan, idealnya yang mirip dengan project yang akan dikerjakan.

Keempat, letakkan seluruh data yang didapat ke dalam “magic formula” dimana dapat memberikan estimasi project. Ukuran dan formula dapat bervariasi diantara teknik estimasi, tapi proses di level atas tetap sama.

Sebagai hasilnya, strategi estimasi biaya formal ini ternyata masih bermasalah dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Secara praktek, ternyata banyak penyedia jasa software development tidak memiliki kemampuan estimasi yang bagus. The Standish Group’s “Chaos Report” (www.standishgroup.com) menemukan bahwa hanya 31% dari proyek TI yang reasonable dalam hal waktu dan bujet dan pada rata-rata biaya proyek adalah 189% dari estimasi awal. Hasil ini semakin memperkuat keyakinan bahwa fixed-price project malah memperbesar pengeluaran keuangan dan menjadi sangat beralasan untuk membandingkan nilai proyek akhir dengan estimasi awal. Menjadi sangat sulit untuk mengidentifikasikan potensial ROI pada proyek TI, untuk membandingkan respon pada RFP, atau untuk perform bujet tahunan yang akurat.
  • Secara teori, penyedia jasa software development juga tidak dapat memberi estimasi yang bagus. Di tahun 1987, Chris Kemerer melaporkan pada “An Empirical Validation of Software Cost Estimation Models” (Communications of the ACM, May 1987) bahwa teknik formal estimasi memiliki tingkat kesalahan antara 85.772% ketika diaplikasikan. Kabar buruknya adalah studi ini dilakukan pada tahun 1980, dimana kita masih menggunakan teknologi yang jadul (Cobol, C). Laporan ini hanya sebagai salah satu contoh diantara banyak yang menunjukkan bahwa strategi formal estimasi tidak dapat bekerja sebaik secara praktek dimana para protagonis klaim.
  • Tidak ada relasi yang teruji bagus antara teori dan praktek. Magne Jxrgensen dan Martin Shepperd melaporkan pada “A Systematic Review of Software Development Cost Estimation Studies” (IEEE Transactions on Software Engineering, January 2007) bahwa masih ada kebutuhan untuk riset secara signifikan pada pengaplikasian teknik estimasi software, khususnya dalam dunia nyata. Walaupun mereka mencantumkan ratusan referensi pada laporan estimasi, mereka tidak dapat menemukan studi tunggal yang mengevaluasinya. Banyak yang menggunakan actual historical data, tapi tidak ada studi yang dieksplore bagaimana strategi estimasi itu diaplikasikan secara praktek. Singkatnya, terlihat masih banyak blind faith pada teknik estimasi up-front.
  • Setiap orang diciptakan berbeda. Awal 1968, Sackman, Erikson, dan Grant melaporkan rasio produksi 20 banding 1 antara programer terbaik dan terburuk (”Exploratory Experimental Studies Comparing Online and Offline Programming Performance,” Communications of the ACM, January 1968). Semenjak itu kekurangan pada metodologi mereka ditunjukkan, dan rasio 10 banding satu menjadi lebih realistis. Akhir-akhir ini, Barry Boehm melaporkan rasio 10-banding-1 pada Software Cost Estimation with Cocomo II (Addison-Wesley 2000). Intinya adalah kecuali anda tahu secara pasti siapa yang akan mengerjakan, atau paling tidak memiliki jaminan kriteria orang yang mengerjakan project, kemudian historic data anda yang akan membuktikan segala pertanyaan.
  • Customer tahu bahwa kita tidak dapat mengestimasi diawal secara efektif. Dr. Dobb’s 2007 Project Success Survey (see Defining Success) menemukan bahwa 87% business stakeholders secara jelas lebih tertarik mendapatkan ROI yang bagus daripada investasi dibawah budget.
  • Ketidakakuratan data historis. Teknik estimasi formal bergantung pada data histori, dan kalopun data itu ada sangat jarang akurat. Lebih dari satu dekade data histori adalah nilai yang kecil ketika teknologi yang kita gunakan berubah2 setiap tahun, ketika komposisi tim kita berubah, dan ketika kemampuan staf kita berubah. Sebagaian dari pondasi dimana estimasi kita bergantung secara konstan meningkat, mengurangi kemmapuan kita untuk tepat.
  • Estimasi di muka mengakibatkan Big Requirements Up Front (BRUF), dimana menimbulkan pemborosan yang signifikan. Untuk mengurangi resiko ketidakpastian pada estimasi kita, kita harus meningkatkan level informasi yang masuk pada estimasi-estimasi ini. Hal ini memotivasi kita untuk melakukan detail modelling dari kebutuhan dan bahkan arsitektur kita. The “Chaos Report” menunjukkan bahwa proyek yang menggunakan pendekatan BRUF hingga delivering system, dimana 45% dari fungsionalitas belum dimanfaatkan oleh stakeholders. Jadi, dengan memaksakan strategi fixed-price, seringkali untuk meminimalkan resiko keuangan, dapat dipastikan bahwa rata-rata separo bujet pengembangan akan terbuang. Ya, estimate di awal akan memotivasi IT provider untuk membuat rencana yang detail, tapi sayangnya tidak sebagus ketika dipraktekkan.
  • Ketatnya manajemen perubahan yang mengakibatkan customer tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan sesungguhnya. Opsi yang paling nyata untuk memproteksi kita sendiri dari resiko fixed-price proyek TI adalah mengadopsi strategi manajemen perubahan tradisional yang ketat dimana membuat customer sulit untuk memodifikasi requirement mereka. Proses ini biasanya berat, membuat potensi jadwal yang tidak meleset secara eksplisit dan biasanya membuat customer membayar secara fair untuk setiap perubahan. Faktor-faktor ini mengurangi minat customer untuk merubah requirement yang sudah ditentukan mereka, walaupun memang requirement mereka berubah, dan merubah strategi manajemen perubahan kepada strategi pencegahan perubahan. Bukan hanya strategi pencegahan perubahan yang memperburuk tantangan yang berkaitan dengan BRUF, mereka juga dipertanyakan dari segi etika karena kita secara memotivasi customer untuk membayar fungsionalitas yang mungkin saja sebetulnya tidak mereka inginkan. Strategi manajemen perubahan yang cerdas memperlakukan requirements seperti rak prioritas yang dimanaje oleh stakeholders, dan tim development tinggal menarik pekerjaan dari rak paling atas secara berturut-turut ke bawah, sehingga menghasilkan ROI terbaik yang diinginkan stakeholders. Ini membuat stakeholders memanage scope, sehingga mendapatkan software yang betul2 sesuai dengan kebutuhan dan mereka harus bertanggungjawab atas segala perubahan scope.
  • Pemborosan waktu dan tenaga pada estimate awal yang terlalu dipaksakan untuk tepat. Customer seringkali tidak sadar akan nilai effort yang dibutuhkan untuk mendapatkan sedikit kesamaan pada estimasi kita.

Jadi, Apakah Fixed-Price itu Etis ?

Untuk menjadikan fixed-priced proyek TI dapat dikatakan etis, maka ada 3 kriteria yang harus dipenuhi.

Pertama, ada unsur pemaksaan secara eksplisit dari pihak customer untuk penerapan fixed-priced.

Kedua, customer sudah diberitahu segala resiko terkait dengan fixed-priced.

Ketiga, customer sudah diberikan beberapa pilihan seperti pembayaran per tahap pengembangan sebagaimana umumnya dilakukan pada proyek TI besar atau pembayaran secara kontinyu mengalir seperti pada pelaksanaan proyek yang ‘agile’ (cepat), dan mendapatkan informasi untung rugi metode tersebut, namun customer tetap memilih secara eksplisit untuk menggunakan pendekatan fixed-priced project TI.

Banyak profesional TI yang menyerah ketika menghadapi permintaan customer untuk fixed-priced proyek TI, padahal itu meningkatkan resiko proyek. Kita harus berhenti menerima status quo dan mendorong balik kepada customer serta membantu mereka berpikir ulang akan strategi ini.

Kesimpulannya, pada dasarnya kita tahu bahwa fixed-priced proyek TI adalah metode yang buruk, dan customer kita pun sadar akan hal itu juga. Ketika customer memaksakan untuk menggunakan pendekatan fixed-priced pada proyek TI, maka secara etika kita harus mencoba mengajak mereka menjauhi metode yang berbahaya ini.

Kalau kita tidak mulai memberikan argumentasi perlawanan yang konsisten akan metode fixed-priced project, maka kita tidak akan pernah keluar dari masalah ini. Kita harus mulai secara aktif mengurangi resiko yang ada pada industri bisnis kita, dan keinginan customer akan fixed-priced proyek TI adalah problem dan resiko terbesar yang kita hadapi.

sumber: http://www.ddj.com

Ade Aan @ August 10, 2008